Rima, asal-usul, keberagaman, dan cerita kerja sama!
Kata kunci: rima, asal-usul, nenek moyang, kata penghubung.
Indonesia memiliki beragam suku, bahasa, dan budaya. Setiap keluarga mempunyai cerita asal-usul. Dengarkan cerita keluarga dengan rasa ingin tahu dan saling menghargai.
Dengarkan lagu “Nenek Moyangku” yang diperdengarkan guru. Catat syair yang kamu dengar, kemudian nyanyikan bersama-sama.
Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah Airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala
Reff:
Melambai lambai
Nyiur di pantai
Berbisik bisik Raja Kelana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah Airku Indonesia
Ciptaan Ismail Marzuki
Baris adalah satu larik dalam syair atau puisi. Beberapa baris membentuk bait. Rima adalah persamaan bunyi pada akhir baris, misalnya a-a-b-b, a-a-a-a, atau a-b-a-b. Tandai bunyi akhir pada tiap bait lagu.
Pilih lagu anak yang kamu sukai dan amati rimanya. Buat syair baru dengan kata-katamu sendiri tentang Indonesia atau daerahmu. Pertahankan bunyi akhir yang berima dan tuliskan nama pengarang lagu asal jika diketahui.
Contoh syair dalam buku:
Aku anak Indonesia
Anak yang merdeka
Satu nusaku
Satu bangsaku
Satu bahasaku
Reff:
Indonesia ... Indonesia ...
Aku bangga menjadi anak Indonesia
Pending di khatulistiwa
Tanahku Indonesia
Beribu pulaunya
Beragam sukunya
Satu jiwa raganya
“Aku Anak Indonesia”, ciptaan A.T. Mahmud
Pernahkah kamu ditanya, “Kamu orang mana?” atau “Asalmu dari mana?” Sebagian orang akan menjawab dengan tempat kelahirannya. Sebagian lainnya akan menjawab dengan daerah asal atau suku orang tuanya, misalnya Bugis atau Aceh. Ada juga yang menjawab dengan daerah asal kakek-neneknya, atau malah kakek-nenek buyutnya jika mereka tidak berasal dari daerah yang sama, misalnya kakek buyutnya dari Jawa dan nenek buyutnya dari Dayak. Ada pula yang asal leluhurnya lebih jauh, misalnya Pakistan, Tiongkok, Arab, atau negara lainnya. Tidak jarang kita berjumpa dengan orang yang berdarah campuran. Di darahnya mengalir berbagai suku atau bangsa. Kalau sudah begitu, sebagian orang lebih senang menjawab “Saya orang Indonesia”. Dari suku atau daerah mana pun dia atau orang tua dan leluhurnya, yang penting kita sama-sama orang Indonesia, bukan?
Sejak dahulu orang-orang sudah pergi merantau, berpindah dari daerah asalnya. Di tempat baru mereka menetap dan berkeluarga dengan warga setempat atau pendatang lainnya. Tahukah kamu, migrasi manusia di muka bumi ini sudah terjadi sejak zaman purba.
Menurut para ahli, berjuta-juta tahun lalu pada awalnya belum ada manusia di pertiwi kita ini. Manusia pertama yang datang adalah Homo erectus dari Afrika. Tentu mereka tidak datang langsung ke Indonesia begitu saja. Mereka berpencar ke Eropa, Asia, dan sebagiannya ke Indonesia. Mereka kemudian beranak pinak dan menyebar ke berbagai daerah. Setelah itu, ada beberapa gelombang kedatangan lagi dalam rentang waktu yang lama.
Sejalan dengan makin berkembangnya peradaban dan kebudayaan manusia, berkembang pula interaksi dan perdagangan antarmasyarakat. Oleh karena itu, berdatangan pula orang-orang dari budaya lain ke Nusantara, seperti dari India, Tionghoa, dan Arab.
Semua proses migrasi ini berlangsung dalam rentang waktu yang sangat lama. Dari mana kita tahu tentang proses ini? Untuk itu kita harus berterima kasih kepada para ahli yang terus melakukan penelitian mendalam. Para ahli meneliti barang-barang peninggalan sejarah dan fosil.
Teks oleh Eva Y. Nukman
| Kata | Arti |
|---|---|
| Leluhur | Nenek moyang atau orang terdahulu dalam keluarga |
| Migrasi | Perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain |
| Merantau | Pergi ke daerah lain untuk tinggal atau bekerja |
| Peradaban | Kemajuan kebudayaan suatu masyarakat |
Ceritakan kembali informasi bacaan dengan kata-katamu sendiri. Hargai keragaman suku dan asal-usul setiap keluarga.
Dengan izin dan didampingi orang tua, tanyakan asal daerah keluarga. Kamu boleh membagikan hal yang nyaman untuk diceritakan saja.
Tulislah tiga paragraf: asal orang tua dan kakek-nenek; alasan perpindahan jika ada; serta daerah yang ingin kamu tinggali dan alasannya.
“Lunpia … lunpia …,” teriak A Joe siang itu. Dia tak peduli kaki telanjangnya kepanasan. “Huh, mengapa tak ada seorang pun yang mau membeli lunpiaku?” keluh A Joe. Dari kemarin, dia berjalan kaki keliling Kampung Melayu menjajakan lunpia. Namun, ketika orang-orang bertanya apa yang dijualnya, mereka pun pergi begitu saja.
“Jangan-jangan lunpia buatanku tidak enak? Ah, tetapi orang-orang di Pecinan suka,” pikir A Joe masih penasaran. Dia tak mau hanya berjualan di Pecinan. A Joe ingin lunpianya laris dan bisa dinikmati semua orang.
“LUMPIA, LUMPIA!” A Joe tersentak dari lamunannya. Seorang perempuan dengan rambut ekor kuda berteriak lantang. Beberapa orang keluar dari rumah dan membeli. A Joe melihat perempuan itu berjualan penganan yang mirip dengan lunpianya. “Hmmm, apa buatan dia lebih enak daripada buatanku?” gumam A Joe.
“LUMPIA, LUMPIA!” teriak perempuan itu lagi. A Joe menghadang langkahnya.
“Hei, kamu jualan lunpia, ya?” tanya A Joe ketus.
“Lumpia, bukan lunpia,” sahut perempuan itu.
“Bukan! Yang betul lunpia. Lun artinya lunak, pia artinya kue. Itu bahasa Hokkian!” bantah A Joe ketus.
Perempuan itu malah tertawa, “Namaku Warsih. Aku orang Jawa, tak paham bahasa Hokkian. Lumpiaku berasal dari kata Olympia, karena aku sering jualan di pasar malam Olympia,”
A Joe ternganga, “Oh, begitu, ya?”
Lalu A Joe bertanya, “Kenapa orang-orang Kampung Melayu ini mau membeli lumpiamu? Sedangkan punyaku tak laku.” Wajah A Joe berubah murung.
“Memangnya, lunpiamu isi apa?” tanya Warsih.
A Joe lalu menunjukkan lunpia buatannya pada Warsih. “Rebung dan daging babi,”
Warsih menggeleng. “Kamu lihat kan, penduduk Kampung Melayu banyak yang berasal dari Arab dan Gujarat. Mereka beragama Islam. Itu, ada masjid di sana. Orang Islam, tidak makan babi. Tidak halal. Lumpia buatanku isinya kentang dan udang. Karena itu, mereka bisa memakannya,”
Setelah itu, Warsih berkata lagi, “Sebetulnya, nasib kita sama kok. Lumpia buatanku juga tidak laku di kawasan Pecinan. Mereka tak suka lumpia kentang. Mereka maunya isi rebung,” kata Warsih.
A Joe dan Warsih sama-sama terdiam. Namun, sebenarnya otak mereka berpikir keras. Beberapa detik kemudian, wajah A Joe cerah.
“Aku ada ide! Mengapa kita tidak bekerja sama saja? Maksudku, ayo, kita ciptakan resep baru supaya semua orang bisa menikmati lunpia buatan kita.”
“Hah? Bagaimana caranya?” Warsih heran. “Apa kita bisa?”
“Tidak ada salahnya mencoba. Bagaimana? Kamu mau mencobanya?” tanya A Joe.
Warsih mengangguk, “Kamu benar juga. Tidak ada salahnya mencoba,”
Warsih dan A Joe berjabat tangan. Sejak saat itu, mereka berdua bekerja sama dalam menciptakan resep baru dan menjajakannya bersama.
Diceritakan ulang oleh Dian Kristiani
Lumpia atau lunpia adalah makanan khas Semarang yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Direktorat Internalisasi dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014). Lumpia hadir pertama kali pada abad ke-19 dan merupakan salah satu contoh perpaduan budaya asli Tiong Hoa – Jawa.
Pada tahun 1870, Tjoa Thay Joe datang dari Fujian ke Semarang dan menjajakan lunpia yang berisi rebung dan daging babi. Kemudian, dia bertemu dengan perempuan Jawa bernama Warsih yang juga menjajakan penganan yang mirip tetapi berisi kentang dan udang. Mereka berdua lalu menikah. Lumpia buatan mereka pun disesuaikan baik isi maupun rasanya, agar bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.
Sumber: www.halonusa.com
Kata penghubung antarkalimat menghubungkan satu kalimat dengan kalimat berikutnya. Kata ini biasanya berada di awal kalimat dan dipisahkan dengan koma.
| Fungsi | Contoh kata | Contoh penggunaan |
|---|---|---|
| Menjelaskan kejadian berikutnya | Selanjutnya, Setelah itu, | Setelah itu, mereka menyusun resep baru. |
| Menjelaskan pertentangan | Akan tetapi, Namun, | Namun, resep pertama belum laku. |
| Menjelaskan akibat | Akibatnya, Oleh karena itu, | Oleh karena itu, mereka bekerja sama. |
| Menguatkan keadaan sebelumnya | Malah, Bahkan, | Bahkan, pembeli datang dari daerah lain. |
Gunakan kata penghubung untuk menyusun cerita berdasarkan urutan gambar atau kejadian.
Batik besurek adalah kain khas dari provinsi Bengkulu. Besurek berasal dari kata “bersurat” yang diucapkan dalam dialek Bengkulu. Disebut demikian karena motifnya adalah kaligrafi huruf Arab gundul yang merupakan potongan ayat suci Al Quran. Oleh karena itu, batik bersurek dahulu tidak boleh dipakai sembarangan.
Batik besurek menunjukkan besarnya pengaruh kebudayaan Islam terhadap seni budaya di Bengkulu. Sebagian ahli memperkirakan batik besurek sudah ada sejak abad ke-16 atau 17, seiring dengan datangnya pedagang Arab dan pekerja dari India yang beragama Islam. Sebagian ahli lainnya meyakini bahwa batik besurek diperkenalkan oleh para saudagar dan seniman batik dari Demak.
Namun, ada pula yang berpendapat bahwa masyarakat Bengkulu mengenal metode batik dari hijrahnya Sentot Ali Basyah, panglima perang Pangeran Diponegoro, dari Jawa ke Bengkulu. Saat itu Sentot Ali Basyah ditemani oleh anak buah dan keluarganya diasingkan Belanda ke Bengkulu. Kabarnya mereka inilah yang mula-mula mengenakan kain batik dengan motif “surat”.
Dulu batik besurek hanya digunakan pada upacara adat seperti pernikahan. Misalnya, dijadikan sampiran di kamar pengantin atau dijadikan penutup kepala pengantin pria. Selain itu, batik besurek juga digunakan sebagai kain penutup Al Quran.
Dalam perkembangannya, motif batik besurek dipadukan dengan motif khas Bengkulu, yaitu bunga rafflesia. Di samping itu, motif huruf Arab atau mirip huruf Arab yang dipakai pun tak lagi memiliki makna ayat suci. Karena itu, kini batik besurek dapat digunakan sehari-hari.
Disarikan oleh Dian Kristiani dari berbagai sumber
Pewarna alam diperoleh dari tanaman atau tanah tertentu. Mintalah bantuan orang tua atau orang dewasa saat menggunakan air panas.
Bacalah cerita atau bacaan tentang asal-usul, budaya daerah, makanan, atau kain tradisional. Catat judul, sumber, penulis, isi bacaan, serta tindakan tokoh yang kamu sukai dan alasannya.
Pilih kegiatan singkat untuk menyegarkan pikiran sebelum belajar Bab 7.
Guru menyebut kata penghubung; siswa membuat contoh kalimat yang sesuai.
Tonton di YouTubeLagu kanak-kanak dengan rima a-a-a-a yang seru untuk dinyanyikan bersama sambil menirukan gerakan.
Tonton di YouTubeLagu dengan rima yang mudah diikuti, cocok untuk ice breaking sebelum masuk materi.
Tonton di YouTubeLagu kanak-kanak dengan rima sederhana, cocok untuk melatih pendengaran bunyi akhir baris.
Tonton di YouTubeTiga permainan untuk memahami rima, asal-usul, budaya daerah, dan kata penghubung.
Klik kartu di bawah, lalu klik keranjang yang sesuai. Benar = +10 poin.
Balik dua kartu. Cocokkan kata dengan maknanya!
Capai skor 80+ di Game 1, selesaikan semua kartu di Game 2, dan selesaikan 6 pasangan di Game 3 dengan percobaan < 15 kali. Laporkan hasilmu ke guru!
Video animasi tentang rima, kisah nenek moyang, kerja sama A Joe dan Warsih, serta batik besurek. Aktifkan suara untuk narasi otomatis.
Video tambahan untuk memperdalam materi. Tombol membuka YouTube di tab baru.
Kenali percampuran budaya melalui cerita dan makanan tradisional.
Cari di YouTubeBaca pernyataan dengan cermat. Tentukan apakah pernyataan itu BENAR atau SALAH berdasarkan materi Bab 7!
Temukan arti kata leluhur, migrasi, merantau, dan peradaban.
Tandai bunyi akhir pada bait lagu dan tentukan pola rimanya.
Buat cerita pendek dengan kata Setelah itu, Namun, dan Oleh karena itu,.
Ceritakan informasi tentang makanan, kain, atau budaya khas daerahmu.
Hasil LKPD akan otomatis terkirim ke guru dan tersimpan di database sekolah.
20 soal pilihan ganda Bab 7. Nilai evaluasi otomatis tersimpan ke tabel nilai.
Jawab dengan jujur. Tidak ada jawaban salah di sini!
Hasil refleksi otomatis tersimpan di catatan harian siswa (kategori Akademik, berawalan [Refleksi Bab 7 Bahasa Indonesia]). Guru dapat melihat dan menghapusnya di tab Rekap Guru.
Menampilkan data siswa Kelas 4: nilai tugas, refleksi, dan LKPD Bab 7 Bahasa Indonesia. Data dapat dihapus dengan kode guru.