Setiap orang memiliki alat utama untuk mencari nafkah. Seorang petani mengandalkan cangkul, seorang tukang membawa palu, sementara bagiku, seorang guru, senjata mata pencaharianku adalah sebuah laptop.
Hampir setiap hari laptop itu menemaniku bekerja. Dari sanalah aku menyusun perangkat pembelajaran, membuat media ajar, menyiapkan soal, mengolah nilai, hingga menyelesaikan berbagai administrasi kelas. Banyak pekerjaan yang dahulu dilakukan secara manual kini menjadi lebih cepat dan lebih rapi berkat sebuah laptop.
Namun, ketika jam mengajar usai, laptop itu tidak langsung ditutup. Justru saat itulah perjalanan belajar dimulai. Aku memanfaatkannya untuk mempelajari dunia koding sedikit demi sedikit. Aku mencoba membuat website, mempelajari bahasa pemrograman, memperbaiki bug, dan membangun aplikasi sederhana yang dapat membantu pekerjaan sehari-hari. AI juga menjadi teman belajar yang sering membantuku memahami hal-hal yang sebelumnya terasa rumit.
Di waktu lain, laptop yang sama berubah menjadi ruang kreativitas. Aku belajar desain sekadarnya, cukup untuk membuat poster sekolah, banner kegiatan, ilustrasi sederhana, atau media informasi yang lebih menarik. Bagiku, kemampuan itu bukan untuk mengejar kesempurnaan, tetapi agar bisa memberikan hasil yang lebih baik untuk sekolah dan peserta didik.
Ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah terlewat saat semua proses itu berlangsung, yaitu menyeruput secangkir kopi gula aren. Entah mengapa, di tengah hangatnya kopi, pikiran terasa lebih tenang. Ide-ide yang semula buntu perlahan bermunculan. Saat sebuah program terus mengalami error, sering kali jawabannya justru muncul ketika aku berhenti sejenak, menikmati kopi, lalu kembali menatap layar. Begitu pula saat membuat desain atau menyusun sebuah tulisan, imajinasi seolah mengalir lebih mudah.
Mungkin bagi sebagian orang aku hanya terlihat duduk di depan laptop sambil mengetik. Padahal, di balik layar itu ada proses panjang: membaca, belajar, mencoba, gagal, mencari solusi, memperbaiki kesalahan, lalu mencoba lagi. Proses itulah yang membuatku menikmati vibe coder. Bukan karena merasa sudah mahir, melainkan karena selalu ada tantangan baru yang membuatku ingin terus belajar.
Aku percaya bahwa seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus terus bertumbuh. Teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan alat untuk membantu memberikan pembelajaran yang lebih baik. Selama masih ada rasa ingin tahu, selalu ada kesempatan untuk berkembang.
Karena itulah, laptop bukan sekadar perangkat elektronik bagiku. Ia adalah ruang kelas, buku catatan, meja kerja, studio desain, sekaligus laboratorium kecil tempat aku belajar dan berkarya. Ditemani secangkir kopi gula aren, aku mengajar, belajar, menulis, membuat desain, membangun website, dan sesekali menikmati dunia koding. Dari benda sederhana itulah, rezeki, ilmu, dan berbagai karya terus lahir, satu per satu.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!