Ada satu hal yang selalu saya yakini sebagai seorang guru, bahwa murid akan lebih mudah mengingat pelajaran ketika mereka benar-benar mengalaminya. Karena itulah, saat mengajarkan materi Pendidikan Pancasila Bab 1 tentang "Identitas Masyarakat di Lingkungan Tempat Tinggalku", saya ingin menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Pilihan saya jatuh pada Tari Tor-Tor, salah satu tarian tradisional dari Sumatera Utara.
Pagi itu, sebelum pelajaran dimulai, saya menyiapkan video Tari Tor-Tor di layar kelas. Begitu murid-murid masuk, mereka langsung penasaran.
"Lho, Pak, hari ini mau nonton ya?" tanya Ais sambil tersenyum.
"Sekalian belajar," jawab saya.
"Wah... seru, Pak!" sahut beberapa murid hampir bersamaan.
Saya memang sengaja tidak langsung membuka buku. Saya ingin mereka melihat dulu bagaimana indahnya budaya Indonesia. Setelah video selesai diputar, saya bertanya, "Menurut kalian, apa yang membuat tarian ini menarik?"
Najwa langsung mengangkat tangan. "Gerakannya kompak, Pak."
"Kalau saya suka pakaiannya," ujar Alika.
Rania menambahkan, "Musiknya juga unik, Pak."
Saya tersenyum mendengar jawaban mereka. Dari jawaban-jawaban sederhana itu, saya mulai mengaitkannya dengan materi hari itu. Saya menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki identitasnya masing-masing. Ada bahasa daerah, rumah adat, makanan khas, pakaian adat, hingga tarian tradisional. Tari Tor-Tor adalah salah satu identitas budaya masyarakat Batak di Sumatera Utara yang menjadi bagian dari kekayaan Indonesia.
Daripada hanya mendengarkan penjelasan, saya mengajak mereka mencoba beberapa gerakan dasar Tari Tor-Tor. Awalnya ada yang malu-malu, tetapi tidak lama kemudian seluruh kelas ikut bergerak mengikuti irama musik. Suasana menjadi riuh oleh tawa. Ada yang salah arah, ada yang terlambat mengikuti gerakan, bahkan ada yang saling mengingatkan dengan penuh semangat. Bagi saya, justru di situlah letak proses belajarnya.
"Pak... ternyata nggak gampang ya," kata Rania sambil tertawa.
"Nggak apa-apa," jawab saya. "Belajar itu bukan soal langsung bisa, tetapi soal berani mencoba."
Kalimat sederhana itu ternyata membuat mereka semakin percaya diri. Gerakan demi gerakan mulai terlihat lebih kompak. Saya bisa melihat mereka menikmati prosesnya. Rasanya jauh lebih menyenangkan dibanding hanya duduk mendengarkan penjelasan saya di depan kelas.
Di akhir pembelajaran, saya mengajak mereka berbincang santai. Saya bertanya, "Kalau Indonesia punya banyak suku dan budaya yang berbeda, apa yang harus kita lakukan?"
"Harus saling menghargai, Pak," jawab Najwa.
"Jangan mengejek budaya daerah lain," tambah Alika.
"Dan harus bangga jadi orang Indonesia," sahut Ais dengan mantap.
Jawaban-jawaban itu membuat saya tersenyum. Ternyata tujuan pembelajaran hari itu bukan hanya mereka mengetahui asal Tari Tor-Tor, tetapi juga memahami makna di balik keberagaman. Sebagai guru, momen seperti inilah yang selalu saya nantikan. Ketika murid tidak sekadar menghafal materi, tetapi mampu mengambil nilai dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya percaya, pembelajaran yang baik bukan hanya memenuhi target kurikulum, melainkan juga meninggalkan kesan. Mungkin beberapa tahun lagi mereka akan lupa isi halaman buku yang dibaca hari ini. Namun, saya berharap mereka masih mengingat bahwa suatu pagi di kelas 4, mereka pernah tertawa bersama, belajar menari Tari Tor-Tor, dan menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan yang membuat Indonesia begitu istimewa.
Karena pada akhirnya, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi. Mengajar adalah menciptakan pengalaman yang akan selalu dikenang oleh murid.
Sumber gambar : https://bobo.grid.id/read/082886004/tari-tortor-sejarah-jenis-fungsi-dan-gerakannya?page=all
Diskusi & Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!